Candu Dunia Maya

Saat ini sering kita jumpai suatu situasi pertemuan dimana para peserta nya sibuk mengutak atik perangkat komunikasinya masing masing, ada yang sibuk mengecek group group whatsapp nya,  , browsing situs berita, atau sekadar mengupdate status facebook, path atau twiiter nya,  Fisik mereka memang sama sama berada di suatu tempat , tetapi konsentrasi dan pikiran mereka berada ditempat lain, tenggelam dalam dunianya masing masing.

Bahkan saya sendiri sering menyaksikan suatu pemandangan yang dapat dikatakan cukup menyedihkan, dimana suatu keluarga makan bersama di restaurant, akan tetapi hampir tidak terlihat interaksi yang hangat antara ayah, ibu dan anak. Sang ayah dan juga ibu sibuk dengan smartphone nya masing masing, sementara anak anak asyik bermain games dengan Ipad/ tab nya

Setiap orang saat ini merasa wajib memiliki smartphone, terhubung ke internet, dan aktif dalam medsos dan group group instant messaging seperti whatsapp , tentu hal ini memiliki dampak baik positif maupun negatif. Salah satu dampak positif nya, kita sekarang menjadi lebih mudah menjalin komunikasi dan mengetahui kabar dengan sanak saudara dan teman, walaupun secara fisik berjauhan. Dengan perangkat komunikasi di tangan, kita juga saat ini dengan mudah mendapatkan update berita atau informasi terbaru.

Tetapi, jika kurang bijak dalam penggunaan nya, gadget, medsos dan group group messaging tersebut secara sadar atau tidak telah menjadi candu bagi kita. Candu tersebut berbeda beda kadarnya tergantung daya tahan kita masing masing,

Jika kita keluar rumah lupa membawa handphone kemudian merasa harus kembali lagi  misalnya, itu masih termasuk wajar, dan kadar candunya dapat dikatakan rendah.

Akan tetapi kita mesti waspada jika tanpa sadar telah menjadi sedemikian terobsesi dengan  gadget dengan dunia maya nya,  sampai megabaikan lingkungan di dunia nyata.

Mengirim pesan atau broadcast terlalu banyak, mengecek medsos  terlalu sering , dan  selalu menunggu nunggu komentar atau sekedar like, love atau retweet atas update status dan postingan di  facebook, path, instagram atau twitter , adalah beberapa gejala kurang sehat yang menandakan efek candu komunikasi modern telah berada pada tingkat yang mengkhawatirkan.

Banyak hasil penelitian yang menunjukkan dampak negatif  kecanduan komunikasi modern ini. Contoh hasil penelitian Dr Jennie Carrol dari Universitas RMIT Melbourne yang menyatakan bahwa terlalu sering mengirim pesan text (seperti sms, bbm, whatsapp, atau instant messaging lainnya)  melalui ponsel dapat menyebabkan sakit mental dan fisik, didapati gejala seperti kecemasan, rasa tidak aman, depresi, dan rendah diri yang banyak ditemui di kalangan remaja yang senang ber-texting ria..

Efek komunikasi modern ini dapat berupa Textaphrenia (keadaan di mana Anda seakan mendengar suara pesan masuk atau ponsel bergetar, padahal kenyataannya tidak demikian), Textiety (perasaan gelisah karena tidak menerima pesan atau tidak bisa mengirim pesan) Post-traumatic text disorder (cedera fisik dan mental akibat terlalu banyak mengirim pesan) dan binge texting  (keadaan di mana seseorang mengirim banyak pesan dalam satu waktu agar dirinya merasa baik dan berusaha menarik balasan).

"Dalam textaphrenia dan textiety ada perasaan bahwa 'tidak ada orang yang mencintai saya, tak ada orang yang menghubungi saya'," papar Carol  (Situs Hidayatullah, 2 Juli 2010)


Contoh lain, dalam hal jejaring sosial Facebook misalnya,  seorang psikologis telah menemukan sebuah kecanduan baru yang dinamakan Facebook Addiction Disorder (FAD). Menurut psikologis Dr. Michael Fenichel, yang baru saja merilis dalam FAD online, mendeskripsikan FAD sebagai situasi dimana penggunaan Facebook telah ‘membuat lupa’ aktivitas sehari-hari seperti bangun pagi, mengenakan pakaian, menggunakan telepon atau mengecek email.

Hal yang paling menakjubkan adalah seperti ponsel yang sepertinya orang tidak bisa lepas, baik di kerja, rumah atau di jalan, kini banyak  orang beralih ke Facebook. “ ungkap Fenichel, dalam judul posting online "Facebook Addiction Disorder- A New Challenge?". FAD sendiri dapat diklaisifikasikan sebagai ‘tingkah laku kecanduan Internet’, setelah sebelumnya terdapat kecanduan jejaring social atau kecanduan ponsel.

Gejala FAD menurut Joanna Lipari, psikologis klinik di University of California, Los Angeles antara lain :  Waktu tidur menjadi berkurang banyak akibat kecanduan Facebook, sepanjang malam hanya berkutat dengan Facebook,  menghabiskan waktu lebih dari satu jam per hari untuk Facebook-an. , menjadi terobsesi dengan cinta lama atau mantan yang ikut terkoneksi di Facebook, dan mengabaikan pekerjaan hanya untuk Facebook-an.

Pemikiran bahwa ‘ditinggalkan atau meninggalkan’ Facebook serasa ‘mati rasa’. Jika meninggalkan Facebook dalam satu hari dan ternyata membuat stress dan resah, maka mungkin user perlu mendapat bantuan.

Beberapa terapi di US menemukan bahwa user yang mengalami FAD akan memiliki disfungsi social yang berlebih. Hal ini seperti yang diklaim Facebook, bahwa sebanyak 2 miliar foto dan 14 juta video telah di-upload di berbagai halaman Facebook per bulan, juga waktu sebanyak 6 miliar menit telah dihabiskan untuk Facebook per harinya, di seluruh dunia. (Beritanet.com 21 Oktober 2009)

Bahkan terdapat berita yang baru baru ini mengagetkan kita, seorang Ibu di Colorado, Amerika Serikat  yang asyik facebook-an, mengabaikan  anaknya yang baru berusia 13 bulan  sehingga tewas tenggelam di bak mandi (Republika Online 15 Januari 2011)

Efek candu komunikasi modern ini makin dirasakan dalam kehidupan sehari hari. Hal ini tanpa disadari dapat menurunkan kualitas hubungan sosial kita di dunia nyata, baik dengan keluarga maupun sahabat. Hubungan silaturahmi bisa menjadi tidak seakrab dan sehangat dulu lagi.

Dalam contoh yang ekstrem, apa gunanya seorang anak menantikan orang tuanya pulang kerja, jika begitu sampai di rumah, sang ayah atau ibu lebih sibuk dengan gadget-nya, chatting dengan temen teman di group whatsapp nya, membolak balik layar Ipad, ngobrol di telpon, atau mengecek akun jejaring sosialnya.

Pengaruh media sosial dalam kehidupan keseharian kita begitu kuat, sebagian dari kita sadar atau tidak sadar, merasa penting untuk memposting hampir semua aktivitas aktivitas kita ke medsos, bahkan terkadang berupaya men-create aktivitas yang terlihat “bagus” untuk menjadi content akun medsos kita,

dan yang lebih ironis, jika kita sampai pada suatu tahap, yang mungkin tidak sepenuhnya kita sadari, dimana “sharing suatu moment di medsos menjadi lebih penting daripada menikmati moment itu sendiri

Sebuah artikel di bbc.com dengan judul “how disconnecting the internet could help our identity sangat menyentuh dan perlu kita renungkan, saya kutipkan sebagian nya disini :

A man called “Jack” told the Guardian recently that he checks his social media profiles tens of time a day and how that takes him away from the physical world around him

“I’ll often see moments as ‘good content’ for my social media followers” he said “it’s almost like the photographing and sharing of a cool time is more important than actually appreciating it in real life”

 

Refleksi

Untuk sekadar refleksi kita semua, delapan  pertanyaan berikut mungkin dapat membantu untuk melihat sejauh mana efek candu komunikasi modern tersebut merasuki kehidupan kita :

  • Apakah waktu luang kita lebih banyak dihabiskan dengan mengutak atik gadget dan mengecek akun jejaring sosial dibandingkan aktivitas sosial di dunia nyata?
  • Jika berada di suatu acara atau pertemuan sosial, apakah kita lebih suka membuka obrolan atau lebih merasa bosan  dan mengisi waktu dengan  mengutak atik gadget?
  • Jika berada ditengah keluarga atau teman dekat, berapa lama kita dapat fokus mengobrol, tanpa diselingi aktivitas mengutak atik smartphone?
  • Apakah kita merasa setiap aktivitas kita harus di posting pada jejaring sosial kita? Atau bahkan apakah kita (secara sadar atau tidak sadar)  berupaya mencari aktivitas yang akan tampak bagus sebagai content media sosial kita?
  • Apakah kita sering menunggu nunggu komentar atas postingan kita baik di medsos ataupun di group group messaging? Atau merasa penting berapa banyak tanda like, love, atau retweet yang kita peroleh dalam setiap postingan kita?
  • Apakah kita merasa nyaman jika melewatkan satu satu minggu saja tanpa mengecek akun medsos kita?
  • Berapa menit sekali kita merasa perlu untuk menatap layar gadget kesayangan kita?
  • Berapa sering kita melakukan aktivitas bertamu (secara fisik) ke rumah sahabat, atau keluarga diluar event keagamaan seperti lebaran?
  • Terkadang kita merasa senang dengan banyaknya jumlah contact di handphone,  jumlah teman di facebook atau path, atau follower di twitter kita. Berapa persen dari jumlah tersebut yang merupakan sahabat sejati kita dalam arti yang sesungguhnya? Sahabat yang akan memberi pertolongan di kala kita mendapat kesulitan atau teman yang mengunjungi di kala kita sakit?

jawaban atas pertanyaan pertanyaan tersebut dapat menjadi bahan renungan dan refleksi sejauh mana efek candu dunia maya telah merasuk dalam diri kita.

 

Tips Terhindar Dari Candu Dunia Maya

Jika anda merasa bahwa efek candu dunia maya pada kehidupan anda telah berada pada tingkat yang agak berlebihan, tips tips berikut dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi efek tersebut :

 

  • Bagi waktu dengan baik antara aktivitas dunia nyata dengan dunia maya
  • Kurangi frekuensi update status jejaring sosial yang kurang penting dan ganti dengan upaya mempererat dan memperhangat hubungan di dunia nyata sekitar kita.
  • Fokus pada kehadiran di dunia nyata, diluar panggilan urgent atau tuntutan tugas, lawan bicara yang secara fisik sedang berada di dekat kita, lebih patut mendapat prioritas perhatian, dibanding teman dunia maya yang entah berada dimana.
  • Untuk mengurangi kecendrungan mengutak atik gadget atau aktifitas chatting yang kurang penting, jika sedang berada dirumah, letakkan perangkat komunikasi agak jauh dari kita, sekadar dapat dijangkau  jika sewaktu waktu ada panggilan atau pesan penting.
  • Tetapkan lah semacam “waktu bebas gadget” di rumah , misalnya dari jam 6 sampai jam 9 malam, dan yang paling penting konsisten dalam menerapkannya.
  • Luangkan waktu untuk bersilaturahmi (secara fisik), terutama untuk keluarga dan sahabat terdekat kita.
  • Hadirkan diri kita se-utuhnya, baik secara fisik maupun konsentrasi dan pikiran bagi lingkungan sekitar kita.

 

Akhirnya, mari kita selami dunia maya secara bijak, jangan sampai gadget dan medsos benar benar berhasil "mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat"

Semoga hubungan silaturahim kita dengan sanak saudara dan sahabat menjadi semakin hangat.

 

 Note : foto ilustrasi dimodifikasi dari utamaseruu.com

 

Baca juga : 

Memahami Maraknya Fenomena Hoax

Antara Kenikmatan Instant vs Kenikmatan di Masa Depan

Komentar :

Kilk disini untuk menulis komentar

Google Search

Custom Search

Artikel Populer

Kamus Bahasa Palembang Kamus Bahasa Palembang Saturday, 01 April 2017
Kiat Bisnis dan Investasi di Timor Leste Kiat Bisnis dan Investasi di Timor Leste Saturday, 31 December 2016
Memahami Maraknya Fenomena Hoax Memahami Maraknya Fenomena Hoax Sunday, 25 December 2016